Jumat, 22 Mei 2009

CINTA TAK HARUS MEMILIKI

Handphone di atas meja berdering. Dengan malas aku beranjak dari tempat tidurku. Entah siapa yang iseng menelphone malam-malam begini. Saat kulihat layarnya disana tertera nomor yang tidak ku kenal. Aku enggan mengangkatnya tapi telephone itu terus berdering seakan berteriak minta di angkat. Suaranya yang berisik membuatku khawatir membangunkan orang rumah. Akhirnya ku angkat juga.

“ Halo, siapa ini?!” tanyaku tanpa basa-basi

“ Halo…!!” jawab suara dari seberang. Aku berpikir mencoba mengenali suara yang terasa tidak asing lagi itu. Rasanya aku mengenal suara ini tapi dimana? Aku lupa.

“ Siapa ini?!” tanyaku penasaran ketika merasa tidak mendapat jawaban.

“ Masak udah lupa…” hanya jawaban yang tidak berguna itu yang terdengar dari seberang membuatku gemas.

“ Jangan berbelit-belit, cepet bilang ini siapa dan ada keperluan apa telephone malam-malam…!!” bentakku mulai kesal. Masalahnya aku ngantuk sekali. Aku perlu istirahat karena besok aku harus bangun pagi dan siap untuk berangkat kerja dengan segudang kesibukan yang menyita waktu dan pikiran. Jadi aku rasa tidak ada waktu untuk main – main.

“ Aku Ferdi, masih ingat…?!” dadaku tersentak kaget ketika mendengar nama itu, tiba-tiba kantuk ku mendadak hilang karena saking terkejut dan tidak percaya pada apa yang aku dengar.

“ Fe, Ferdi…?!” tanyaku tiba-tiba gugup. Aku tak tahu kenapa bisa gugup seperti ini dan tiba-tiba saja suaraku melunak. Benarkah ini Ferdi?! Pikirku antara percaya dan tidak percaya sampai mulutku mangap. Kalau saja tidak cepat ku tutup mungkin ada nyamuk yang masuk dan bersarang disana.

“ Maaf kalau aku ganggu, aku Cuma ingin memastikan ini nomor kamu atau bukan…?” ujar suara itu. Sementara aku masih terpaku.

“ Halo, Luna kamu masih disitu…?!!”

“ I…Iya, aku masih disini… ha… hai gimana kabarnya?” tiba-tiba saja aku kehilangan arah pembicaraan. Ada sesuatu yang sangat hebat yang masih membekas di dalam sini, dan itu membuat dadaku berdegup sangat kencang seperti orang di kejar setan.

“ Kabar aku baik Luna, dan aku senang bisa mendengar suaramu lagi,” ujarnya. Aku juga… gumamku dalam hati.

Sungguh sulit di percaya hal ini akan terjadi. 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar. 5 tahun kami terpisah oleh jarak dan ruang waktu. Dan kini secara tiba-tiba dia hadir kembali meski hanya suaranya saja tapi sudah cukup mewakili kehadirannya di sini di dekatku. Ku pejamkan mata saat aku merasa getaran itu datang lagi, getaran yang sama yang pernah ku rasakan 5 tahun yang lalu.

***

Aku masih sibuk membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja belajar ketika Jeny datang dan mengagetkanku. Kedatangannya yang seperti hantu membuatku sangat terkejut.

“ Ya ampun Luna hari gini masih belajar?! Ini kan hari libur, waktunya jalan-jalan…” belalaknya. Aku hanya tersenyum simpul. Suasana baru di kelas baru juga teman-teman sekelas baru membuatku semakin bersemangat dalam belajar tak peduli itu kapan. Saking semangatnya membuatku lupa makan. Sebenarnya bukan perasaan itu yang membuat semangatku menggebu-gebu. Tapi karena kehadiran anak baru yang pintar itu yang membuatku takut tersisih dari peringkat satu yang selama ini selalu menghiasi raportku.

Dia adalah Ferdi. Murid pindahan dari Jakarta. Seminggu menjadi murid baru di Sekolahku dia sudah terkenal karena kepintaran dan kegantengannya. Tak heran banyak yang mengaguminya terutama dari murid-murid cewek. Mungkin satu-satunya cewek yang tidak mengharapkan kehadirannya adalah aku.

Hari ini Jeny datang untuk mengundangku hadir di pesta Ultahnya besok malam. Dia juga tidak lupa mengundang anak baru itu.

“ Jangan sampai lupa ya, pokoknya besok lo harus datang…!!” tegasnya padaku. Dia langsung pergi begitu saja tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab.

Aku datang terlambat ke Pesta itu. Jeny sempat kesal padaku tapi aku tidak peduli terlebih disana ada Ferdi. Sejak awal aku melihatnya aku sudah tidak senang. Dan ketidak senanganku bertambah saat dia mendapat nilai 1 angka lebih tinggi dariku. Terlebih dia menjadi sangat popular di sekolah. Aku merasa tidak bisa bernafas lagi.

Seperti biasa dia selalu tampil paling gagah dan paling keren. Dan seperti biasa dia selalu di kelilingi cewek-cewek manis dan cantik. Jeny pun tidak mau kalah untuk nimbrung di dekatnya. Hingga aku harus terpaksa melihat Ferdi dari dekat saat aku memberikan kado Ultah pada Jeny.

“ Thanks ya Na… gw pikir lo ga datang…”. Aku hanya tersenyum simpul tanpa melihat ke arah Ferdi yang berada di sampingnya. Malam ini Jeny begitu cantik dengan gaun Ultah yang sangat indah seperti gaun pengantin. Kehadiran Ferdi di sampingnya membuatnya semakin tampak bersinar. Mereka terlihat sangat serasi.

Aku berjalan seorang diri sepulang dari Pesta yang membosankan itu. Betapa tidak? Hampir semua orang yang datang bersama pasangannya masing-masing. Hanya aku yang terlihat sendirian. Mau bergabung dengan Nanda gak enak dia bersama pacarnya takut ngeganggu. Mau bergabung dengan Santi, dia sedang sibuk dengan kenalan barunya. Dengan Jeny, ada si Ferdi yang menyebalkan itu.

Langkahku terhenti sejenak ketika ingatanku kembali pada Ferdi. Kenapa aku begitu tidak menyukainya? Padahal dia cukup baik dan ramah padaku. Apakah karena dia pernah mengalahkan nilaiku? Tapi itu kan Cuma sekali saja Karena di lain waktu aku tetap menjadi juara di semua pelajaran. Lantas apa yang membuatku muak padanya?!
Aku tak menyadari sebuah bayangan terus mengikutiku sejak aku keluar dari rumah Jeni. Langkahnya begitu hati-hati takut ketahuan. Perasaan tidak enak menjalar di sekujur tubuhku. Hari sudah larut dan ini adalah malam Jum’at.

MALAM JUM’AT?!! Tidak!! Buluk kudukku tiba-tiba meremang. Aku memang penakut, sangat penakut! Hiruk pikuk pesta membuatku lupa akan rasa takut ini. Rasa ini tiba-tiba hadir tepat pada saat aku berada di persimpangan jalan menuju rumahku. Dimana aku harus melewati pematangan sawah dan rimbunan pohon bambu yang memisahkan rumahku dengan jalan raya.

Aku begitu panik tak tahu harus bagaimana. Pulang kembali ke tempat Jeny rasanya tidak mungkin. Karena saat ini adalah acara dansa dengan pasangan masing-masing. Mungkin itu salah satu alasan kenapa aku memilih pulang lebih cepat. Sementara bayangan itu terasa lebih dekat, terasa berada tepat di belakangku. Dadaku berdegup kencang begitu hebatnya. Nafasku turun naik tidak teratur.
SRAK!! Suara dahan kering terinjak menghentikan langkahku. Ku pasang tajam telingaku untuk menangkap suara sehalus mungkin. Dan ku tajamkan tatapan ku menembus kegelapan malam.

Tiba-tiba sesuatu melesat begitu cepat dari balik semak-semak dan itu membuat aku syock. Aku menjerit tidak karuan saking kagetnya. Tanpa melihat dengan jelas aku langsung berbalik arah dan ambil seribu langkah sampai langkahku terhenti dengan paksa saat aku menubruk seseorang yang sudah berdiri tepat di belakangku. Aku semakin menjerit sekeras mungkin saking takutnya. Penjahat atau hantukah? Yang jelas bayangan hitam yang terselubung kegelapan itu membekap mulutku dengan erat. Aku tak bisa mengenalinya meski nafas kami terasa dekat.

“ Sssst…ini aku… Ferdi.!!” Bisiknya memintaku untuk diam. Aku langsung lemas dan langsung terjatuh lunglai. Aku sedikit lega setelah mengenali suara itu. Meski tak bisa melihat wajahnya dengan jelas tapi aku yakin dia benar-benar Ferdi. Tapi untuk apa dia berada disini? Bukankah dia sedang berdansa bersama Jeny?!!.

“ Kamu jangan takut begitu, yang tadi Cuma tikus…” hiburnya sembari membantu aku berdiri. Tanpa sadar aku langsung memeluknya begitu erat seakan ingin menyalurkan rasa takut ku. Aku tak bisa melihat jelas bagaimana ekspresi wajah Ferdi saat itu. Aku tidak peduli yang jelas aku ingin ada seseorang yang melindungiku. Aku menangis karena saking takutnya.

Ketika nafasku sudah teratur kembali aku tersentak kaget saat aku sadari aku menangis di dada laki-laki yang selama ini ku benci karena berusaha merebut tempatku sebagai juara sekolah.

“ Nga…ngapain kamu disini!!” bentakku sembari melepaskan pelukan yang membuat wajahku panas. Tak bisa ku bayangkan semerah apa pipiku saat itu. Aku benar-benar malu pada diriku sendiri dan malam ini adalah malam yang paling buruk.

“ Tadi aku lihat kamu pulang sendirian. Aku Cuma khawatir jadi aku ikutin kamu. Gak apa-apa kan…?!” jawabnya ramah seperti biasa. Khawatir??!! Dahiku sampai berkerut mendengarnya. Memangnya dia siapa aku? Aku merasa wajahku terasa semakin panas dan jantung yang sudah kembali normal ini berdegup lebih kencang dari tadi.

“ Boleh aku antar…?!” tawarnya

“ Gak perlu, aku bisa pulang sendiri!! “ jawabku pedas sembari beranjak dari tempatku berdiri.
“ Baiklah, sampai ketemu besok…” ujarnya tanpa memaksaku dan itu membuat langkahku terhenti. Ku lihat bayangan Ferdi menjauh dari tempatku berdiri. Tiba-tiba bulu kudukku merinding lagi, Ferdi meninggalkan aku sendirian di tempat sepi dan gelap seperti ini. Bagaimana kalau ada sesuatu yang melesat seperti tadi dan itu bukan tikus. Tidak!! Kepergian Ferdi membuatku benar-benar merasa sendirian. Aku takut!! Langkahku bergerak sendiri mengejar Ferdi.

Ferdi mengantarkan aku pulang sampai ke muka pintu di sambut oleh mama. “ Tidak mampir dulu…?!”

“ Terima kasih tante, kapan-kapan saja saya mampir…” jawabnya.

“ Ya udah kalau gitu hati-hati di jalan ya,…” seru mama sementara aku langsung menghambur ke kamar tidur dan membenamkan wajahku di atas bantal. Malam ini aku telah mempermalukan diriku 2 x. Pertama tanpa sadar aku memeluk Ferdi karena saking takutnya. Padahal dia adalah cowok yang tidak kusukai, yang kedua aku meminta diantar pulang padahal 2 menit sebelumnya aku menolak tawarannya mentah - mentah. Duuh… aku jadi malas berangkat sekolah besok. Ratapku dalam hati. Aku hanya berharap Ferdi tidak menceritakan kejadian malam ini pada siapapun.

Kejadian malam itu telah menumbuhkan benih-benih cinta di hatiku. Diam-diam aku menaruh hati padanya. Lagipula wanita mana yang tidak tertarik pada cowok semacam Ferdi? Sudah baik, ramah, ganteng, pinter pula. Tapi kenapa aku baru menyadari hal itu sekarang? Tepat pada saat Ferdi menjadi milik orang lain. Yaitu Jeny.

Mereka jadian di malam Ultah Jeny. Tapi malam itu juga Ferdi menumbuhkan perasaan cinta di hatiku. Dan kini saat aku benar-benar mengaguminya aku benar-benar tak bisa menggapainya.

Jeny adalah temanku sejak kecil. Hubungan kami sudah seperti saudara dan diantara kami sudah tidak ada rahasia lagi. Dia selalu menceritakan daftar nama-nama cowok yang silih berganti berlabuh di hatinya. Dan kini Jeny menambah daftar baru dengan nama Ferdi. Sialnya Ferdi adalah cowok pertama yang mencuri hatiku.

Sejak awal Jeny tahu aku tidak menyukai Ferdi jadi dia maklum kalau ekspresi wajahku berubah kecut kalau setiap kali dia menceritakan pengalaman baru dan serunya pacaran bersama cover boy sekolah itu. Tapi sebenarnya bukan karena aku benci pada Ferdi, tapi perasaan cinta membuatku merasa marah dan tidak senang terhadap kemesraan Ferdi dengan cewek lain meski itu dengan pacarnya sendiri. Mungkin ini yang namanya cemburu. Tapi aku tidak pantas untuk cemburu dan aku belum siap untuk merasakan cinta yang terasa sangat asing dalam hidupku.

“ Luna, Ferdi itu sekarang udah jadi cowok gue, lo harus nerima dia sebagai teman lo juga, lagi pula Ferdi itu baik…” ujar Jeny suatu hari.

Baik apanya?!! Laki-laki itu brengsek semua, termasuk dia, sudah berhasil memelukku berpaling pada yang lain. Umpatku dalam hati. Tapi sebenarnya aku yang memeluknya. Duh, aku sangat gusar, bagaimana kalau dia ceritakan hal ini pada Jeny atau pada teman cowoknya yang lain? Nanti apa kata mereka? Image ku bisa rusak seperti sampah. Selama ini aku di kenal sebagai cewek pintar, pendiam dan anti cowok. Apa jadinya kalau ternyata si anti cowok itu memeluk cowok yang terang-terangan di bencinya. Memalukan sekali. Rasanya aku ingin pindah sekolah dan tidak usah melihat Ferdi lagi, juga tidak perlu mendengar cerita-cerita tentang hubungannya dengan Jeny yang begitu mesra.

Satu yang membuatku penasaran, kenapa malam ultah itu Ferdi bersikeras ingin mengantarku pulang, mengkhawatirkan ku, meninggalkan pesta itu untukku padahal dia sedang berdansa dengan cewek yang baru menjadi kekasihnya.

Ujian Nasional tinggal menghitung jari, tanpa terasa 3 tahun telah ku lewatkan di sekolah ini. Padahal dulu aku begitu ingin pindah sekolah tapi aku bisa juga bertahan sampai hari perpisahan di depan mata. Ada sesuatu yang mempertahankan aku disini. Yaitu cinta. Belakangan kusadari Cinta tidak harus memiliki, cukup dirasakan itu sudah cukup membuatku bahagia. Melihatnya dari jauh saja sudah membuatku bersemangat, mendengar sapaannya saja sudah membuatku berbunga-bunga.

Jeny yang hanya bisa bertahan 3 bulan pacaran dengannya sangat terpukul saat melihat Ferdi bersama gadis lain.

“ Mungkin ini karma ya Na,..” ratapnya sedih. Aku hanya mengusap bahunya mencoba menenangkan dirinya yang kini terlihat begitu rapuh. Belum pernah kulihat Jeny serapuh ini. Apakah dia benar-benar jatuh cinta pada Ferdi? Jatuh cinta yang sesungguhnya?.

Hubungan Ferdi dengan cewek barunya itupun tidak bisa bertahan sampai 1 bulan karena bulan berikutnya dia sudah ke cantol dengan primadona dari Sekolah lain. Dan begitulah seterusnya tak pernah ada habisnya. Hilang satu tumbuh seribu, begitulah Ferdi. Dibalik sikapnya yang ramah, pendiam dan santun itu dia memiliki kejelekan, tidak pernah puas dengan satu wanita. Meski demikian rasa kagum ku tidak pernah berkurang entah kenapa. Aku boleh mencintainya tapi tidak untuk memilikinya karena aku sadar dia bukan yang terbaik.

Hari perpisahan telah tiba, aku mendapat penghargaan dari Sekolah karena prestasi dan hasil ujian ku yang tertinggi. Aku sangat bahagia dan bangga dengan jerih payahku selama ini. Setelah ini aku ingin melanjutkan kuliah jurusan Ekonomi Akuntansi. Sementara Jeny mengakhiri masa sekolahnya dengan menjadi ibu rumah tangga akibat salah pergaulan. Untung saja bukan Ferdi orang yang tega merenggut masa depan gadis cantik dan lincah itu. Laki-laki brengsek itu pergi pada saat Jeny membutuhkannya. Terpaksa dia harus menanggung aib itu sendirian.

Berkali-kali aku mendesak Jeny untuk cerita siapa laki-laki brengsek yang tega menanamkan benih di rahimnya, Jeny malah menjawab dengan tangisan. Akupun tak bisa memaksa lagi. Diapun harus kehilangan masa depannya, kehilangan ijazah SMUnya karena tidak bisa mengikuti ujian dengan perut besar. Tepat pada saat perpisahan Jeny dibawa ke rumah sakit. Dia akan melahirkan.

Berita itu kudengar dari mama. Aku langsung meninggalkan pesta perpisahan itu seperti dulu aku meninggalkan pesta Ultah Jeny. Seperti kejadian itu pula sesosok bayangan tampak mengikutiku dari belakang secara diam-diam. Perasaan tidak enak itu datang tapi aku tidak peduli, ini bukan malam jum’at, ini siang bolong. Tidak mungkin ada hantu!

Seekor kucing melesat dari semak-semak membuat aku tersentak kaget. Tapi aku tidak sampai menjerit. Keadaan panik membuatku sangat terkejut. Aku mundur beberapa langkah dan langkahku terhenti ketika aku menabrak seseorang yang berdiri tepat di belakangku.

Aku langsung berbalik dan terkejut melihat Ferdi. Dia tersenyum manis padaku. Senyum yang tidak pernah kulihat lagi sejak malam ulang tahun itu. Dadaku terasa sangat berdegup kencang.

“ Kok buru-buru…?!” tanyanya heran.

“ Jeny di bawa ke rumah sakit, dia akan melahirkan…” jawabku terbata-bata saking paniknya. Aku merasa tiba-tiba parasnya merah. Aku tahu perasaan Ferdi, meskipun tidak ada hubungan apa-apa lagi tapi setidaknya mereka pernah pacaran dan menjadi bagian satu sama lain.

“ Aku pergi dulu…” ujarku pamit. Tiba-tiba tangannya memegang erat tanganku seakan tidak mengijinkan aku pergi.

“ Ini hari perpisahan Luna, seharusnya kamu merayakannya lebih lama sebelum berpisah dengan teman-teman…”

“ Tapi Jeny…!!”

“ Aku ngerti tapi beri aku sedikit waktu, sebentar saja…” pintanya penuh permohonan. Membuatku tak mengerti. Ada apa gerangan? Kedatangannya seperti hantu saja. Malam saat ultah Jeny dia begitu dekat dan hangat, tapi keesokan paginya dia bersikap biasa saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Dan kini mahluk itu datang lagi membawa kehangatan yang sama dan semua itu membuatku tidak mengerti.

“ Ada apa…?” tanyaku sembari menyembunyikan wajahku yang tiba-tiba saja terasa panas.

“ Setelah ini aku akan kembali ke Jakarta dan aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi,…!!” ujarnya dengan air muka tenang setenang sungai yang mengalir di dataran rendah. Lantas apa urusanku? Aku kan bukan ceweknya?! Pikirku.

“ Sebelum aku pergi aku ingin memberikan ini…” tangan besar itu menyerahkan sebuah kalung berliontin hati. Aku benar-benar tidak mengerti dan terasa mimpi.

“ Apa ini..?!!” tanyaku gagap.

“ Kenang-kenangan dariku, aku harap kalung ini tidak hilang sampai kita bisa bertemu kembali suatu saat nanti…setelah aku berhasil menggapai cita-citaku menjadi seorang pengacara” katanya sungguh-sungguh.

“ Jangan bercanda Fer…”

“ Aku tahu ini konyol. Sebenarnya selama ini aku suka sama kamu, sejak pertama kali kita bertemu, tapi aku tidak berani mengungkapkannya. Aku malu karena aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Aku mencoba lupain kamu dengan berganti-ganti pacar. Tapi tak satupun dari mereka bisa ngegantiin posisi kamu di hatiku Luna…”
“ Aku gak percaya…”jawabku pedas menyembunyikan hati yang berbunga-bunga.

“ Gak apa-apa, aku ngerti kalau kamu gak percaya sama aku, tapi beri aku kesempatan untuk membuktikan ketulusan perasaanku. Aku akan kembali untuk kamu Luna, suatu saat nanti…” dia langsung mengecup keningku tanpa malu-malu membuatku syock. Tapi setelah itu dia langsung pergi. Bayangannya menghilang di balik gerbang sekolah yang kokoh yang selama ini menjadi tempatku menimba ilmu dan menemukan cintaku. Dan mungkin ini adalah pertemuan ku yang terakhir dengannya. Bagai mimpi dia datang dan pergi.

***

Kalung berliontin hati itu masih ku timang-timang. Tak kusangka setelah sekian lamanya kini aku bisa berhubungan dengannya lagi. Ini adalah hal yang kunantikan selama 5 tahun lamanya. Tinggal menghitung hari untuk bisa bertemu dengan pujaan hati yang selama ini membuatku menutup pintu hati pada lelaki lain.

Hari yang dijanjikan itu telah tiba. Malam pada saat Ferdi menelphoneku untuk pertama kali, dia memintaku untuk bertemu. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan. Mungkinkah kelanjutan hubungan yang tertunda? Ah jantungku tak ada di tempat lagi membayangkan kebahagiaan yang tiada terkira.

Dari jauh aku sudah mengenali laki-laki yang duduk di kafe itu. Dia adalah Ferdi. Laki-laki yang tidak pernah hilang dari ingatanku. Albumnya terlalu sulit untuk terhapus dari dasar hatiku. Dia masih seperti dulu. Tampan, gagah, dan macho. Hanya sekarang dia terlihat lebih mapan dan berwibawa. Dadaku semakin berdegup kencang saat beberapa meter aku berdiri di belakangnya. Aku tak tahu bagaimana memulai pembicaraan. Waktu lima tahun telah membuat semua tiba-tiba terasa asing dan beku. Seperti tidak pernah bertemu sebelumnya.

Pertemuan itu adalah awal hubungan seriusku dengan Ferdi. Tanpa menunggu waktu lama kami merencanakan pernikahan yang terkesan begitu cepat. Tapi penantian selama lima tahun itu terlampau lama untuk di lewatkan dengan pernikahan yang tertunda.

Kami menyiapkan pesta pernikahan yang sangat mewah. Undangan tersebar kesegenap penjuru. Dari saudara, kerabat, teman, dan tetangga semua kami undang. Diam-diam aku juga mengundang Jeny. Aku sudah kangen padanya. Aku juga tidak sabar ingin melihat anak yang dilahirkannya lima tahun yang lalu. Anak dari seorang laki-laki bajingan dan tidak bertanggung jawab.
Hari pernikahan itu telah tiba. Semua tamu undangan sudah hadir dan tengah menikmati pesta yang sangat meriah. Kebahagiaanku saat itu tak bisa di ukur oleh apapun. Aku dapat meraih cintaku dengan sempurna. Kini aku telah menjadi milik Ferdi seutuhnya.

Diantara semua tamu undangan aku tidak melihat sosok Jeny. Apa mungkin aku sudah tidak mengenalinya lagi? Pikirku. Aku terus menunggunya sampai pesta selesai tapi sosok itu tidak datang juga. Aku mulai putus asa. Kenapa Jeny tidak menghadiri pestaku? Padahal dulu aku tak pernah ketinggalan menghadiri pesta ulang tahunnya.

“ Non… tadi di depan ada seorang wanita, dia hanya menitipkan surat ini untuk non…” kata bi Inah sembari memberikan sebuah amplop berwarna putih. Dadaku berdebar-debar saat kubuka amplop itu. Aku tak sabar ingin tahu isi surat dari wanita misterius yang dikatakan bi Inah. Mungkinkah dia Jeny…? Rasanya tidak mungkin. Tapi kemungkinan itu ada benarnya juga. Surat itu memang dari Jeny.

Dear Luna sahabatku,
Aku minta maaf karena aku tidak bisa hadir di hari pernikahanmu. Ada hal yang membuatku tidak bisa berada bersamamu di hari yang membahagiakan ini. Aku hanya bisa berdoa semoga kamu hidup bahagia bersamanya. Ada satu hal yang harus kamu tahu, dulu kamu selalu bertanya siapa laki-laki yang tega merenggut masa depanku, jawabannya berada di depan matamu Luna.
Semoga kamu bahagia bersama laki-laki pilihanmu.
Salam sayang dari sahabatmu.

Jeny

Di hari yang paling membahagiakan ini airmata mengalir deras di pipiku. Tak kusangka semua ini berakhir dengan kepedihan. Laki-laki brengsek itu kini telah menjadi bagian hidupku, suamiku. Aku tak tahu hari seperti apa yang akan ku lewati bersama laki-laki yang telah menghancurkan masa depan sahabatku. Kalung berliontin hati itu menjadi saksi bisu kepedihan hati di hari istimewa ini. Hati yang terluka bagai teriris sembilu oleh dusta dan kepalsuan.

THE END.

Selasa, 12 Mei 2009

SALAH ALAMAT

“ Luna…!!” teriakan itu menghentikan langkahku. Siapa lagi kalau bukan si centil Rani. “ Luna, lo kan panitia Masa Orientasi Siswa kemarin, pasti lo kenal sama anak cowok yang namanya Dendi…!?”tanyanya antusias. Matanya yang bulat itu menatap tajam ke arahku berharap jawaban Ya! Aku langsung menggeleng tanpa berpikir lagi.
“ Masak sih lo gak kenal…?!”protesnya kecewa.
“ Emangnya gue harus hapal semua nama murid baru di Sekolah ini…!!”
“Tapi gak susah untuk tahu yang namanya Dendi… dia itu paling ganteng di seluruh murid kelas satu…”
“Ganteng itu relatif. Bisa aja menurut lo paling ganteng tapi menurut gue paling jelek…”
“ Uh…!!” dengusnya kesal.
“ Emangnya kenapa sich…?! Kayanya ngebet banget!”
“ Gue pengen minta bantuan lo ngenalin dia ke gue…”
“ Kenapa gak lo aja sendiri…?!”
“ ya gengsi lah…!”
“ Sayang nya gue gak kenal dan gak tahu Dendi yang mana yang lo maksud. Dendi itu kan banyak, gak cuma satu...?”
“ Kalau gue kasih tahu, lo mau kan bantuin gue…?!” pintanya penuh harap. Kalau sudah begitu aku tidak bisa menolak lagi.

Bel istirahat berbunyi. Semua murid menghambur keluar kelas secara serentak. Ada yang ke kantin, ada yang ke perpustakaan, ada yang ke taman, bahkan ada yang hanya duduk – duduk manis melihat anak kelas satu main basket. Siang ini tidak seperti biasa Rani mengajakku menonton anak kelas satu yang sedang bermain basket. Biasanya dia paling doyan ke kantin dan berlama-lama disana sambil ngerumpi melebihi jam istirahat.
Matanya sibuk mencari anak kelas satu yang telah mencuri hatinya itu. Rupanya Rani sudah ganti haluan ‘doyan berondong’. Padahal dari sekian daftar nama cowok yang pernah singgah dihatinya kebanyakan dari mereka anak kuliah dan kakak kelas yang pasti lebih dewasa. Tapi kini rupanya dia sudah ganti selera.
“ Lo kenapa sich penasaran banget sama Wendy…?!” tanyaku penasaran.
“ Bukan Wendy tapi Dendi…!!”protesnya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari kerumunan anak kelas satu di seberang lapangan sana. Matanya terus mencari.
“ Apalah namanya gue gak peduli. Yang bikin gue heran sama selera baru lo… suka sama berondong, padahal dulu lo paling anti berondong. Gengsi lah, gak level dan sebagainya…”
“ Berondong yang satu ini benar-benar beda dari berondong lain. Makanya gue tertarik…”
“ Lo gak malu…?”
“ Kenapa harus malu…? Pede aja lagi, gak apa-apa kan ganti suasana…?!”
“ Cinta memang buta…!” gumamku tak menyangka.
Rani adalah gadis cantik dan popular di sekolahku. Gadis pujaan para cowok, dari yang tampangnya professor sampai yang bertampang arjuna. Tidak sulit untuk mendapat pacar bagi Rani. Dia bisa memilih yang mana saja yang dia suka seperti memilih baju di pasar. Setelah bosan di buang dan cari yang baru lagi.
“ Selagi muda dan ada kesempatan, kalau udah punya suami gak bisa neko-neko lagi…”begitulah alasannya setiap kali dia menambah daftar panjang cowok cowok koleksinya.

“ Luna!!” teriakan Rani mengagetkanku.
“ Apaan sich…!! Gak usah teriak gitu gue gak budeg…!!” protesku sedikit kesal.
“ Itu cowok yang namanya Dendy…” serunya antusias sembari menunjuk pada kerumunan anak kelas satu di seberang lapangan sana.
“ Ya ampun Rani, mereka itu banyak… gimana gue bisa tahu mana yang namanya Dendy…?”
“ Yang paling ganteng, yang mukanya Chinese gitu…”
“ Mana…!! Gak ada yang ganteng…”
“ Buta banget sich lo! Tuh yang itu yang berdua…” tunjuknya pada dua anak laki-laki yang memisahkan diri dari kerumunan.
“ Yang mana? Mereka kan 2 orang…”
“ Yang gak pakai topi…”suara Rani terdengar samar Karena teriakan murid-murid yang antusias melihat jagoannya berhasil memasukan bola ke dalam ring. Kalimatnya terdengar “yang pakai topi” Pandanganku tertuju pada cowok yang memakai topi. Kalau di pikir dia tidak lebih baik dari Aldo mantan Rani.Kulitnya hitam, matanya belok gitu di bilang kayak Chinese. Cinta benar-benar buta. Cowok yang kayak begitu yang bikin Rani merengek minta di kenalin...? Ya ampun, padahal kalau mau dia bisa pilih cowok yang mana saja yang dia suka dan lebih baik dari anak kelas satu itu.
“ Gimana ganteng kan…?!” serunya antusias.
“ Lumayan…” jawabku menghargai pendapatnya.
“ Tapi lebih ganteng cowok di sebelahnya…” ujarku.
“ Ih… kayak gitu di bilang ganteng, ya udah buat lo aja. Gue dapet Dendy lo dapat temennya…”ujarnya penuh semangat.
“ Enggak ah…!!”
“ Kenapa…? Gak ada salahnya kan…? Masak mau jadi jomblo terus, kalau lo kayak gitu kapan dapat pacarnya…?!”
“ Tapi bukan berondong…”. Rani hanya mencibir mendengar jawabanku.
“ Sekarang lo kan udah tahu yang namanya Dendy, tugas lo sebagai teman yang baik comblangin gue ke dia…gimana? “
“ kenapa harus gue?!”
“ Kan lo udah janji… gimana sih!!” protesnya.
Aku sedikit ragu. Pasalnya bagaimana caranya aku mengatakan kalau temanku naksir pada anak kelas satu yang bernama Dendy itu. Nyomblangin diri sendiri aja gak becus gimana mau nyomblangin orang…?

Tapi tidak sulit untuk menemukan jalan keluar. Aku bisa minta bantuan temannya yang tampangnya lumayan ganteng itu. Pucuk di cinta ulampun tiba, tanpa sengaja kami bertemu dalam rapat Osis. Dia menjadi perwakilan kelasnya. Tanpa malu-malu setelah rapat selesai aku langsung menghampirinya. Dengan ramah dia menyapaku penuh hormat.
“ Siang kak…” senyumnya manis menghiasi wajahnya yang putih. Matanya yang sipit menatap tajam ke arahku, bahkan mungkin ke jantungku. Karena sejak aku menatap mata itu tiba-tiba saja jantungku berdebar kencang seperti mau copot. Uh!! Tidak dia berondong… elakku dalam hati mencoba mengendalikan diri.
Aku menghampirinya sebagai kakak kelas yang terkenal judes dan galak. “ Siang…!! Kamu teman Dendy ya…” kulihat alis tebalnya berkerut. Sebelum dia buka mulut aku langsung memotongnya. Aku tak tahan berada dekat dengannya. Daripada jadi grogi lebih baik cepat-cepat sampaikan niatku lalu pergi.
“ Bilang sama Dendy ada salam dari Rani anak kelas 2.1 ”
“ Eh, oh ya…!” jawabnya sedikit gugup.
“ Ya udah, cuma itu aja kok, jangan lupa ya…?!”
“ Beres…!!” jawabnya mantap. Aku langsung pergi dengan sikap dingin seperti biasa tanpa membalas senyumnya yang penuh pesona itu.


Keesokan harinya Rani langsung menagih janjiku.
“ Udah gue sampe in salam lo…”
“ Terus apa jawabnya…?”
“ Gak tahu…”
“ Kok gak tahu…??”
“ Gue nyampein lewat temennya yang kemarin…”
“ Oh… kalau gitu, lo tanya lagi sama dia apa jawabannya. Terus bilang kalau gue ngajak ketemuan di kantin siang ini jam istirahat!”
“ Nekad banget sih lo…?!” kayak gak ada cowok lain aja… kalimat terakhir yang ingin ku katakan ku telan kembali takut menyinggung perasaannya.
“ Lo kenapa sih gak ikhlas gitu nolong temen, karena gue lo kan bisa kenalan juga sama temennya Dendy…” justru karena itu aku tidak mau.
“ Kenapa gak lo aja sendiri sih…!!” umpatku pedas.
“ Ya ampun Luna lo kok tega sih! Lo kan udah setengah jalan nolong gue… please!!”
“ Tapi…”
“ Lun itu dia orangnya…!! Kayaknya mau ke Koperasi… ayo kejar sampein kata-kata gue yang tadi! Bilang nanti jam istirahat gue tunggu dia di kantin…!”
Rani menunjuk pada dua anak laki-laki yang berjalan menuju Koperasi. Mereka memang kompak seperti aku dan Rani. Kemana mana selalu berdua seperti ban motor. Tiba-tiba dadaku berdebar lagi. Sensasi aneh itu datang lagi.
“ Lo aja sendiri…”
“ Luna please ini yang terakhir!! Gue janji…” pintanya penuh permohonan. Uh berat sekali rasanya. Tapi apa boleh buat ini yang terakhir. Aku tidak perlu bilang lewat temannya tapi langsung bilang aja sama orangnya.
Duh apa kata Dendy nanti, kakak kelas yang galak dan judes itu ternyata beralih profesi jadi mak comblang.
Langkahku sedikit tergesa-gesa menuju Koperasi yang letaknya tidak jauh dari perpustakaan. Rasa deg-degan itu semakin menjadi. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Apakah ini yang namanya cinta…? Tidak…!! Aku tidak boleh merasakan ini pada orang yang salah.
Aku sibuk mencari sosok anak laki-laki yang kemana-mana selalu memakai topi itu tapi cukup sulit karena tidak hanya dia yang memakai topi.
“ Pagi kak…” adik-adik kelas yang melewatiku semua menyapaku dengan ramah. Akupun membalas sapaan mereka tak kalah ramah. Tak pernah aku merasa seramah ini pada adik kelas. Suasana hatiku sedang lain soalnya.
“ Pagi kak…” aku langsung membalasnya dengan senyuman terindah yang ku miliki tapi… ternyata yang menyapaku adalah temannya Dendy yang entah siapa namanya. My God… aku jadi semakin salah tingkah.
“ Kakak cakep kalau senyum…” maksud lo gue jelek kalau cemberut? Umpatku dalam hati.
“ Temen kamu mana?!” tanyaku tanpa basa-basi.
“ Lagi beli stabilo di dalam, kenapa kak?!”
“ Enggak, Cuma mau nyampein pesan…”
“ Lewat saya aja…”
“ Ehm, salam yang kemarin dari kak Rani udah kamu sampein?!”
“ Udah…”
“ Apa jawabnya…?!”
“ Salam kembali kak…”
“ Nanti tolong bilang juga sama dia jam istirahat nanti dia di tunggu di kantin sama kak Rani… jangan sampai gak datang. Bilang juga cewek yang namanya Rani ciri-cirinya cakep, berkulit putih dan berambut panjang sebahu. Dia punya tahi lalat di hidung…”
“ Kok cuma Dendy sih yang di ajak, saya enggak…” protesnya.
“ Kamu mau ikut juga gak apa-apa…”
“ Kakak juga ikut?”
“ Gak, ya udah jangan lupa sampein…”
Kataku sembari pergi. Aku tak sanggup harus terus berdekatan dengannya. Dia begitu manis.

Rani sangat berterima kasih karena aku sudah berbaik hati menolongnya.
“ Thanks banget Luna, Lo emang temen gue yang paling baik dan gak ada duanya…”
“ Sama-sama! Tapi lo jangan sampai gak dateng ya, kasihan…”
“ Ya jelaslah… gue kan yang bikin janji…”.
“ Hay Lun, pulang sekolah ada rapat lagi, lo jangan sampai gak datang ya, soalnya mau membahas LDKS untuk calon anggota Osis kita…” Ujar Aldo. Melihat kedatangannya yang tiba-tiba itu , mengagetkanku dan Rani. Wajah Rani langsung merah seperti udang rebus. Dia memang paling tidak bisa menyembunyikan perasaanya apalagi ketemu mantan pacar.
“ Kenapa sih lo bisa putusin cowok sebaik Aldo…?” tanyaku saat Aldo sudah pergi lagi menuju kelas lain.
“ Orangnya terlalu alim. Males gue, pacaran sama dia gak ada sensasinya, gak ada romantis-romantisnya…”
“ Cuma karena itu lo putusin dia…?!” Rani mengangguk pelan.
“ Lo masih sayang sama dia kan…”
“ Lo kenapa sih kayaknya pengen banget ngeliat gue balikan lagi sama Aldo…” protes Rani.
“ Soalnya gak ada yang sebaik dia. Dia itu pintar, anaknya aktif dan lumayan ganteng…” dibanding dengan anak kelas satu itu. Tapi kalimat terakhir itu juga ku telan kembali.
“ Tapi Dendi lebih ganteng dari Aldo…?!” ujarnya semangat.
“ Cinta memang buta…” gumamku. Jelek kok di bilang ganteng. Kalimat itupun ku telan lagi.

Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaan Rani siang ini setelah bertemu dengan Dendy. Apa mereka bisa cocok? Aku benar-benar tak habis pikir kalau Rani bisa jatuh cinta sama cowok sesederhana Dendy. Bukan hanya penampilannya saja yang sederhana tapi wajahnya juga sederhana. Kelewat sederhana malah.
Sementara itu aku masih sibuk mencari buku Sejarah ketika seseorang mengagetkanku dari belakang.
“ Suka ke Perpus juga…?” tanyanya ramah. Aku hanya mengangguk pelan saking kagetnya. Aku tak tahu kenapa aku jadi sering bertemu dia. Dengan segera aku mengambil buku apa saja dan langsung mengambil tempat duduk. Pria berkulit putih dan bermata sipit itu mendekati dan duduk di sebelahku. Dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
“ Sejak pertama ketemu kita belum kenalan…” ucapannya tidak seperti adik kelas pada kakak kelas tapi ucapan seorang laki-laki pada wanita. Cowok temen Dendy itu mengulurkan tangan padaku. Dengan ragu aku menyambutnya. Aku tak tahu kenapa aku bisa mati gaya bila dekat dengannya. Berondong yang satu ini memang beda. Dimana pembawaan tenang dan wibawa yang selama ini kupelihara?!
“Luna…”
“panggil aja Dan…” Dan? Nama yang aneh… tapi aku merasa bahagia bisa mengenalnya.




Bel masuk berbunyi nyaring. Tanpa terasa waktu terasa begitu cepat.
“ Duluan ya…” ujarku ramah. Dan hanya melambaikan tangannya ke arahku. Dia tidak seperti adik kelas lainnya. Dia sangat berbeda. Terkadang terlihat lebih dewasa…

Aku tak mengerti apa yang membuat Rani begitu marah padaku. padahal aku sudah berusaha membantunya. Kalau Dendy tidak menemuinya jam istirahat tadi bukan salah aku dong…
“ Seumur hidup gue belum pernah di permainkan seperti ini…!!” umpatnya padaku.
“ Kok lo sewotnya ke gue sih?! Gue kan udah bilang ke temennya Dendy kalau lo nunggu Dendy di kantin jam istirahat…” protesku membela diri.
“ Tapi dia gak datang…!!” semprotnya pedas.
“ Ya mana gue tahu, mungkin dia ada urusan lain atau mungkin aja dia datang tapi gak tahu yang mana lo…”
“ Tapi kan gue kenal dia, yang gue liat cuma temennya…”
“ Gak mungkin, selama jam istirahat temennya sama gue di Perpustakaan…”
“ Tapi…”
“ Ya udah lo jangan sewot dulu, nanti gue tanyain lagi sama orangnya kenapa dia gak datang…” Rani pun terdiam meski hatinya masih sangat kesal. Pasalnya belum pernah dia dibuat menunggu oleh cowok. Apalagi untuk cowok seperti Dendy.
Siang ini seperti yang dijanjikan Aldo ada rapat osis untuk acara LDKS minggu depan. Aku punya kesempatan untuk bertemu Dan lalu menanyakan kenapa Dendy tidak menemui Rani. Tapi siang ini aku tidak melihat Dan. Kenapa dia tidak ikut rapat?
Memang tak ada anak kelas satu yang ikut rapat siang ini. semua yang hadir adalah anggota Osis lama. Aku yang menjabat sebagai Sekretaris Osis kebagian giliran mencatat daftar siswa kelas satu calon anggota Osis,
Salah satunya adalah Dendy.
“ Wan… ini undangan LDKS buat Dan…” Ujar Aldo pada Wawan.
“ Dan… lo kenal Dan?” tanyaku pada Wawan.
“Dia adik gue,” jawabnya sembari berlalu dihadapanku. Aku semakin tak mengerti. Kenapa kakak adik begitu tidak mirip. Wawan memiliki kulit gelap dan mata bulat. Rambutnya keriting, hidungnya pesek. Sedangkan Dan berkulit putih, hidung mancung bermata sipit seperti Chinese.
“ dan ini untuk Dendy…” ujar Aldo padaku sembari menyerahkan secarik undangan. Aku hanya melongo tak mengerti.
“ Lo salah orang, gue gak kenal Dendy”
“ Lho…! Bukannya jam istirahat tadi lo asyik ngobrol sama dia di Perpustakaan…?!”


TAMAT