Selasa, 12 Mei 2009

SALAH ALAMAT

“ Luna…!!” teriakan itu menghentikan langkahku. Siapa lagi kalau bukan si centil Rani. “ Luna, lo kan panitia Masa Orientasi Siswa kemarin, pasti lo kenal sama anak cowok yang namanya Dendi…!?”tanyanya antusias. Matanya yang bulat itu menatap tajam ke arahku berharap jawaban Ya! Aku langsung menggeleng tanpa berpikir lagi.
“ Masak sih lo gak kenal…?!”protesnya kecewa.
“ Emangnya gue harus hapal semua nama murid baru di Sekolah ini…!!”
“Tapi gak susah untuk tahu yang namanya Dendi… dia itu paling ganteng di seluruh murid kelas satu…”
“Ganteng itu relatif. Bisa aja menurut lo paling ganteng tapi menurut gue paling jelek…”
“ Uh…!!” dengusnya kesal.
“ Emangnya kenapa sich…?! Kayanya ngebet banget!”
“ Gue pengen minta bantuan lo ngenalin dia ke gue…”
“ Kenapa gak lo aja sendiri…?!”
“ ya gengsi lah…!”
“ Sayang nya gue gak kenal dan gak tahu Dendi yang mana yang lo maksud. Dendi itu kan banyak, gak cuma satu...?”
“ Kalau gue kasih tahu, lo mau kan bantuin gue…?!” pintanya penuh harap. Kalau sudah begitu aku tidak bisa menolak lagi.

Bel istirahat berbunyi. Semua murid menghambur keluar kelas secara serentak. Ada yang ke kantin, ada yang ke perpustakaan, ada yang ke taman, bahkan ada yang hanya duduk – duduk manis melihat anak kelas satu main basket. Siang ini tidak seperti biasa Rani mengajakku menonton anak kelas satu yang sedang bermain basket. Biasanya dia paling doyan ke kantin dan berlama-lama disana sambil ngerumpi melebihi jam istirahat.
Matanya sibuk mencari anak kelas satu yang telah mencuri hatinya itu. Rupanya Rani sudah ganti haluan ‘doyan berondong’. Padahal dari sekian daftar nama cowok yang pernah singgah dihatinya kebanyakan dari mereka anak kuliah dan kakak kelas yang pasti lebih dewasa. Tapi kini rupanya dia sudah ganti selera.
“ Lo kenapa sich penasaran banget sama Wendy…?!” tanyaku penasaran.
“ Bukan Wendy tapi Dendi…!!”protesnya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari kerumunan anak kelas satu di seberang lapangan sana. Matanya terus mencari.
“ Apalah namanya gue gak peduli. Yang bikin gue heran sama selera baru lo… suka sama berondong, padahal dulu lo paling anti berondong. Gengsi lah, gak level dan sebagainya…”
“ Berondong yang satu ini benar-benar beda dari berondong lain. Makanya gue tertarik…”
“ Lo gak malu…?”
“ Kenapa harus malu…? Pede aja lagi, gak apa-apa kan ganti suasana…?!”
“ Cinta memang buta…!” gumamku tak menyangka.
Rani adalah gadis cantik dan popular di sekolahku. Gadis pujaan para cowok, dari yang tampangnya professor sampai yang bertampang arjuna. Tidak sulit untuk mendapat pacar bagi Rani. Dia bisa memilih yang mana saja yang dia suka seperti memilih baju di pasar. Setelah bosan di buang dan cari yang baru lagi.
“ Selagi muda dan ada kesempatan, kalau udah punya suami gak bisa neko-neko lagi…”begitulah alasannya setiap kali dia menambah daftar panjang cowok cowok koleksinya.

“ Luna!!” teriakan Rani mengagetkanku.
“ Apaan sich…!! Gak usah teriak gitu gue gak budeg…!!” protesku sedikit kesal.
“ Itu cowok yang namanya Dendy…” serunya antusias sembari menunjuk pada kerumunan anak kelas satu di seberang lapangan sana.
“ Ya ampun Rani, mereka itu banyak… gimana gue bisa tahu mana yang namanya Dendy…?”
“ Yang paling ganteng, yang mukanya Chinese gitu…”
“ Mana…!! Gak ada yang ganteng…”
“ Buta banget sich lo! Tuh yang itu yang berdua…” tunjuknya pada dua anak laki-laki yang memisahkan diri dari kerumunan.
“ Yang mana? Mereka kan 2 orang…”
“ Yang gak pakai topi…”suara Rani terdengar samar Karena teriakan murid-murid yang antusias melihat jagoannya berhasil memasukan bola ke dalam ring. Kalimatnya terdengar “yang pakai topi” Pandanganku tertuju pada cowok yang memakai topi. Kalau di pikir dia tidak lebih baik dari Aldo mantan Rani.Kulitnya hitam, matanya belok gitu di bilang kayak Chinese. Cinta benar-benar buta. Cowok yang kayak begitu yang bikin Rani merengek minta di kenalin...? Ya ampun, padahal kalau mau dia bisa pilih cowok yang mana saja yang dia suka dan lebih baik dari anak kelas satu itu.
“ Gimana ganteng kan…?!” serunya antusias.
“ Lumayan…” jawabku menghargai pendapatnya.
“ Tapi lebih ganteng cowok di sebelahnya…” ujarku.
“ Ih… kayak gitu di bilang ganteng, ya udah buat lo aja. Gue dapet Dendy lo dapat temennya…”ujarnya penuh semangat.
“ Enggak ah…!!”
“ Kenapa…? Gak ada salahnya kan…? Masak mau jadi jomblo terus, kalau lo kayak gitu kapan dapat pacarnya…?!”
“ Tapi bukan berondong…”. Rani hanya mencibir mendengar jawabanku.
“ Sekarang lo kan udah tahu yang namanya Dendy, tugas lo sebagai teman yang baik comblangin gue ke dia…gimana? “
“ kenapa harus gue?!”
“ Kan lo udah janji… gimana sih!!” protesnya.
Aku sedikit ragu. Pasalnya bagaimana caranya aku mengatakan kalau temanku naksir pada anak kelas satu yang bernama Dendy itu. Nyomblangin diri sendiri aja gak becus gimana mau nyomblangin orang…?

Tapi tidak sulit untuk menemukan jalan keluar. Aku bisa minta bantuan temannya yang tampangnya lumayan ganteng itu. Pucuk di cinta ulampun tiba, tanpa sengaja kami bertemu dalam rapat Osis. Dia menjadi perwakilan kelasnya. Tanpa malu-malu setelah rapat selesai aku langsung menghampirinya. Dengan ramah dia menyapaku penuh hormat.
“ Siang kak…” senyumnya manis menghiasi wajahnya yang putih. Matanya yang sipit menatap tajam ke arahku, bahkan mungkin ke jantungku. Karena sejak aku menatap mata itu tiba-tiba saja jantungku berdebar kencang seperti mau copot. Uh!! Tidak dia berondong… elakku dalam hati mencoba mengendalikan diri.
Aku menghampirinya sebagai kakak kelas yang terkenal judes dan galak. “ Siang…!! Kamu teman Dendy ya…” kulihat alis tebalnya berkerut. Sebelum dia buka mulut aku langsung memotongnya. Aku tak tahan berada dekat dengannya. Daripada jadi grogi lebih baik cepat-cepat sampaikan niatku lalu pergi.
“ Bilang sama Dendy ada salam dari Rani anak kelas 2.1 ”
“ Eh, oh ya…!” jawabnya sedikit gugup.
“ Ya udah, cuma itu aja kok, jangan lupa ya…?!”
“ Beres…!!” jawabnya mantap. Aku langsung pergi dengan sikap dingin seperti biasa tanpa membalas senyumnya yang penuh pesona itu.


Keesokan harinya Rani langsung menagih janjiku.
“ Udah gue sampe in salam lo…”
“ Terus apa jawabnya…?”
“ Gak tahu…”
“ Kok gak tahu…??”
“ Gue nyampein lewat temennya yang kemarin…”
“ Oh… kalau gitu, lo tanya lagi sama dia apa jawabannya. Terus bilang kalau gue ngajak ketemuan di kantin siang ini jam istirahat!”
“ Nekad banget sih lo…?!” kayak gak ada cowok lain aja… kalimat terakhir yang ingin ku katakan ku telan kembali takut menyinggung perasaannya.
“ Lo kenapa sih gak ikhlas gitu nolong temen, karena gue lo kan bisa kenalan juga sama temennya Dendy…” justru karena itu aku tidak mau.
“ Kenapa gak lo aja sendiri sih…!!” umpatku pedas.
“ Ya ampun Luna lo kok tega sih! Lo kan udah setengah jalan nolong gue… please!!”
“ Tapi…”
“ Lun itu dia orangnya…!! Kayaknya mau ke Koperasi… ayo kejar sampein kata-kata gue yang tadi! Bilang nanti jam istirahat gue tunggu dia di kantin…!”
Rani menunjuk pada dua anak laki-laki yang berjalan menuju Koperasi. Mereka memang kompak seperti aku dan Rani. Kemana mana selalu berdua seperti ban motor. Tiba-tiba dadaku berdebar lagi. Sensasi aneh itu datang lagi.
“ Lo aja sendiri…”
“ Luna please ini yang terakhir!! Gue janji…” pintanya penuh permohonan. Uh berat sekali rasanya. Tapi apa boleh buat ini yang terakhir. Aku tidak perlu bilang lewat temannya tapi langsung bilang aja sama orangnya.
Duh apa kata Dendy nanti, kakak kelas yang galak dan judes itu ternyata beralih profesi jadi mak comblang.
Langkahku sedikit tergesa-gesa menuju Koperasi yang letaknya tidak jauh dari perpustakaan. Rasa deg-degan itu semakin menjadi. Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Apakah ini yang namanya cinta…? Tidak…!! Aku tidak boleh merasakan ini pada orang yang salah.
Aku sibuk mencari sosok anak laki-laki yang kemana-mana selalu memakai topi itu tapi cukup sulit karena tidak hanya dia yang memakai topi.
“ Pagi kak…” adik-adik kelas yang melewatiku semua menyapaku dengan ramah. Akupun membalas sapaan mereka tak kalah ramah. Tak pernah aku merasa seramah ini pada adik kelas. Suasana hatiku sedang lain soalnya.
“ Pagi kak…” aku langsung membalasnya dengan senyuman terindah yang ku miliki tapi… ternyata yang menyapaku adalah temannya Dendy yang entah siapa namanya. My God… aku jadi semakin salah tingkah.
“ Kakak cakep kalau senyum…” maksud lo gue jelek kalau cemberut? Umpatku dalam hati.
“ Temen kamu mana?!” tanyaku tanpa basa-basi.
“ Lagi beli stabilo di dalam, kenapa kak?!”
“ Enggak, Cuma mau nyampein pesan…”
“ Lewat saya aja…”
“ Ehm, salam yang kemarin dari kak Rani udah kamu sampein?!”
“ Udah…”
“ Apa jawabnya…?!”
“ Salam kembali kak…”
“ Nanti tolong bilang juga sama dia jam istirahat nanti dia di tunggu di kantin sama kak Rani… jangan sampai gak datang. Bilang juga cewek yang namanya Rani ciri-cirinya cakep, berkulit putih dan berambut panjang sebahu. Dia punya tahi lalat di hidung…”
“ Kok cuma Dendy sih yang di ajak, saya enggak…” protesnya.
“ Kamu mau ikut juga gak apa-apa…”
“ Kakak juga ikut?”
“ Gak, ya udah jangan lupa sampein…”
Kataku sembari pergi. Aku tak sanggup harus terus berdekatan dengannya. Dia begitu manis.

Rani sangat berterima kasih karena aku sudah berbaik hati menolongnya.
“ Thanks banget Luna, Lo emang temen gue yang paling baik dan gak ada duanya…”
“ Sama-sama! Tapi lo jangan sampai gak dateng ya, kasihan…”
“ Ya jelaslah… gue kan yang bikin janji…”.
“ Hay Lun, pulang sekolah ada rapat lagi, lo jangan sampai gak datang ya, soalnya mau membahas LDKS untuk calon anggota Osis kita…” Ujar Aldo. Melihat kedatangannya yang tiba-tiba itu , mengagetkanku dan Rani. Wajah Rani langsung merah seperti udang rebus. Dia memang paling tidak bisa menyembunyikan perasaanya apalagi ketemu mantan pacar.
“ Kenapa sih lo bisa putusin cowok sebaik Aldo…?” tanyaku saat Aldo sudah pergi lagi menuju kelas lain.
“ Orangnya terlalu alim. Males gue, pacaran sama dia gak ada sensasinya, gak ada romantis-romantisnya…”
“ Cuma karena itu lo putusin dia…?!” Rani mengangguk pelan.
“ Lo masih sayang sama dia kan…”
“ Lo kenapa sih kayaknya pengen banget ngeliat gue balikan lagi sama Aldo…” protes Rani.
“ Soalnya gak ada yang sebaik dia. Dia itu pintar, anaknya aktif dan lumayan ganteng…” dibanding dengan anak kelas satu itu. Tapi kalimat terakhir itu juga ku telan kembali.
“ Tapi Dendi lebih ganteng dari Aldo…?!” ujarnya semangat.
“ Cinta memang buta…” gumamku. Jelek kok di bilang ganteng. Kalimat itupun ku telan lagi.

Tak bisa kubayangkan bagaimana perasaan Rani siang ini setelah bertemu dengan Dendy. Apa mereka bisa cocok? Aku benar-benar tak habis pikir kalau Rani bisa jatuh cinta sama cowok sesederhana Dendy. Bukan hanya penampilannya saja yang sederhana tapi wajahnya juga sederhana. Kelewat sederhana malah.
Sementara itu aku masih sibuk mencari buku Sejarah ketika seseorang mengagetkanku dari belakang.
“ Suka ke Perpus juga…?” tanyanya ramah. Aku hanya mengangguk pelan saking kagetnya. Aku tak tahu kenapa aku jadi sering bertemu dia. Dengan segera aku mengambil buku apa saja dan langsung mengambil tempat duduk. Pria berkulit putih dan bermata sipit itu mendekati dan duduk di sebelahku. Dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
“ Sejak pertama ketemu kita belum kenalan…” ucapannya tidak seperti adik kelas pada kakak kelas tapi ucapan seorang laki-laki pada wanita. Cowok temen Dendy itu mengulurkan tangan padaku. Dengan ragu aku menyambutnya. Aku tak tahu kenapa aku bisa mati gaya bila dekat dengannya. Berondong yang satu ini memang beda. Dimana pembawaan tenang dan wibawa yang selama ini kupelihara?!
“Luna…”
“panggil aja Dan…” Dan? Nama yang aneh… tapi aku merasa bahagia bisa mengenalnya.




Bel masuk berbunyi nyaring. Tanpa terasa waktu terasa begitu cepat.
“ Duluan ya…” ujarku ramah. Dan hanya melambaikan tangannya ke arahku. Dia tidak seperti adik kelas lainnya. Dia sangat berbeda. Terkadang terlihat lebih dewasa…

Aku tak mengerti apa yang membuat Rani begitu marah padaku. padahal aku sudah berusaha membantunya. Kalau Dendy tidak menemuinya jam istirahat tadi bukan salah aku dong…
“ Seumur hidup gue belum pernah di permainkan seperti ini…!!” umpatnya padaku.
“ Kok lo sewotnya ke gue sih?! Gue kan udah bilang ke temennya Dendy kalau lo nunggu Dendy di kantin jam istirahat…” protesku membela diri.
“ Tapi dia gak datang…!!” semprotnya pedas.
“ Ya mana gue tahu, mungkin dia ada urusan lain atau mungkin aja dia datang tapi gak tahu yang mana lo…”
“ Tapi kan gue kenal dia, yang gue liat cuma temennya…”
“ Gak mungkin, selama jam istirahat temennya sama gue di Perpustakaan…”
“ Tapi…”
“ Ya udah lo jangan sewot dulu, nanti gue tanyain lagi sama orangnya kenapa dia gak datang…” Rani pun terdiam meski hatinya masih sangat kesal. Pasalnya belum pernah dia dibuat menunggu oleh cowok. Apalagi untuk cowok seperti Dendy.
Siang ini seperti yang dijanjikan Aldo ada rapat osis untuk acara LDKS minggu depan. Aku punya kesempatan untuk bertemu Dan lalu menanyakan kenapa Dendy tidak menemui Rani. Tapi siang ini aku tidak melihat Dan. Kenapa dia tidak ikut rapat?
Memang tak ada anak kelas satu yang ikut rapat siang ini. semua yang hadir adalah anggota Osis lama. Aku yang menjabat sebagai Sekretaris Osis kebagian giliran mencatat daftar siswa kelas satu calon anggota Osis,
Salah satunya adalah Dendy.
“ Wan… ini undangan LDKS buat Dan…” Ujar Aldo pada Wawan.
“ Dan… lo kenal Dan?” tanyaku pada Wawan.
“Dia adik gue,” jawabnya sembari berlalu dihadapanku. Aku semakin tak mengerti. Kenapa kakak adik begitu tidak mirip. Wawan memiliki kulit gelap dan mata bulat. Rambutnya keriting, hidungnya pesek. Sedangkan Dan berkulit putih, hidung mancung bermata sipit seperti Chinese.
“ dan ini untuk Dendy…” ujar Aldo padaku sembari menyerahkan secarik undangan. Aku hanya melongo tak mengerti.
“ Lo salah orang, gue gak kenal Dendy”
“ Lho…! Bukannya jam istirahat tadi lo asyik ngobrol sama dia di Perpustakaan…?!”


TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar